Tolak Angin Sido Muncul Kembali Terima Indonesia Living Legend Brands Award 2017

Banyak perusahaan dan merek-merek di Indonesia yang menjadi perusahaan / Brand Legend atau berusia di atas lima puluh tahun. Brand atau merek tidak bisa dilepaskan dari perkembangan perusahaan. Ini bisa menjadi catatan perjalanan panjang yang mengikuti tumbuh dan berkembangnya perusahaan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Swanetwork, Tolak Angin Sido Muncul kembali terpilih menjadi salah satu Brand Legend di Indonesia untuk yang ke-3 kalinya dengan kategori Obat Herbal.

Selengkapnya

Penghargaan Indonesia Living Legend Brands Award 2017 dari Majalah Swa untuk produk Tolak Angin diserahkan oleh General Manager Swa Thoos Pattinasarany, Pemimpin Redaksi Swa Online Kusnan M. Djawahir, dan diterima oleh Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., Irwan Hidayat, pada Selasa, 19 September 2017.

Direktur PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat mengucapkan terima kasih dengan diterimanya penghargaan ini, karena dapat menjadi tolak ukur bagi Sido Muncul untuk menjaga kualitas produk-produknya agar tetap dicintai oleh para konsumennya. “Diharapkan nantinya, Sido Muncul bukan hanya produk-produknya saja yang melegenda, melainkan perusahaannya pun ikut melegenda”.

Tolak Angin merupakan produk pertama yang dibuat oleh Sido Muncul yang diformulasikan sejak tahun 1930 oleh pendirinya, Ibu Rahmat Sulistio, dan sampai sekarang resepnya tetap sama. Pada tahun 1940, Tolak Angin dijual dalam bentuk godokan. Kemudian pada tahun 1951 bersamaan dengan lahirnya PT Sido Muncul, Tolak Angin diproduksi secara massal dalam bentuk serbuk. Guna mengikuti perkembangan jaman, Tolak Angin dibuat dalam bentuk cair pada tahun 1992.

Tolak Angin juga telah melakukan berbagai uji praklinis yaitu uji toksisitas dan uji khasiat. Pada tahun 2007, Tolak Angin telah mendapat sertifikat Obat Herbal Terstandar (OHT) dari Badan POM RI dan menjadi satu-satunya obat masuk angin yang mendapatkan OHT sampai saat ini yang berarti bahan baku dan mutu produknya terstandarisasi.